Minggu, 29 Agustus 2010
Jesus
Yah,…
Ia dapat merasakan nafas
Saat tidak ada suara yang terdengar karena lelah
John Trapp
From Chicken Soup for The Christian Dad’s Soul
Halilintar
Suatu malam ada halilintar yang sangat keras. Cahayanya berkilat dan guntur menggelegar – halilintar yang menakutkan sehingga orang akan sedikit kaget dan bergetar sedikit.
Temanku berlari ke atas ke kamar anak perempuannya untuk melihat apakah anaknya ketakutan dan meyakinkan anaknya bahwa semuanya itu baik-baik saja.
Ia masuk ke kamar anaknya dan menemui anaknya sedang berdiri disamping jendela, membentangkan kedua tangannya ke depan jendela. Kemudian temanku berteriak, “Apa yang sedang kamu lakukan?” anaknya berbalik dari kilatan halilintar dan dengan gembira menjawab, “Aku pikir Tuhan sedang memotretku.”
Tony Campolo
From Chicken Soup for Christian Dad’s Soul
Ayah ku
Bagaimana memperlakukan orang.
Setiap tindakan yang baik yang kutunjukan kepada orang lain
Adalah karena aku mencoba
Untuk meniru ayahku.
^^
Pamela McGrew
From Chicken Soup for Christian Dad’s Soul
Kerjakan yang Mampu Kau Kerjakan
“Kudengar langit akan runtuh hari ini,” sahut sang burung.
Petani renta itu berdecak. “Apakah menurutmu kau dapat menahan langit dengan sepasang kaki kurusmu?”
“Bukankah orang harus mengerjakan yang mampu diperbuatnya,” jawab sang burung dengan tegas.
D’ette Corona.
From Chicken Soup for the Unsikable Soul
Burung Laut Membawa kebahagiaan untuk Kamu

Anak perempuan ini berumur eman tahun ketika saya pertama kali menemuinya di tepi pantai dekat tempat tinggal saya. Pantai ini berjarak sekitar empat mil dari rumah saya. Dia sedang membuat sesuatu seperti istana pasir dan kemudian melihat saya, matanya biru seperti laut.
"Hai", katanya. Saya menjawab acuh tak acuh, hati saya sedang tidak enak dan tidak mau diganggu oleh seorang anak kecil.
"Aku sedang membangun," katanya.
"Saya tahu. Apa itu ?" saya bertanya sekedarnya, tidak peduli.
"Oh, tidak tahu, aku cuma senang main pasir." Kelihatannya baik, saya berpikir, kemudian melepaskan sepatu saya. Seekor burung laut terbang melintas.
"Itu kebahagiaan" katanya.
"Itu apa?" tanya saya.
"Itu kebahagiaan. Mama berkata burung laut membawa kebahagiaan untuk kita" katanya dengan mata berbinar menatap burung laut yang terbang menjauhi pantai.
"Selamat tinggal kebahagiaan," saya bergumam kepada diri sendiri, "Halo kepedihan," dansaya berbalik untuk meneruskan perjalanan.
Saya sedang depresi, hidup saya kelihatannya benar-benar kacau dan berantakan.
"Siapa namamu?" anak itu tidak menyerah sambil dengan langkah kecil mengikuti saya.
"Robert," saya menjawab. "Saya Robert Peterson."
"Namaku Wendy, aku berumur enam tahun," sahutnya sambil menatapku dengan mata birunya. Mata itu begitu bulat dan indah.
"Hai, Wendy" sapaku dengan agak tertegun melihatnya... Gadis kecil ini begitu mempesona..
Dia tertawa geli. "Kamu lucu," katanya. Dengan mengabaikan perasaan saya, saya ikut tertawa dan kemudian berjalan pergi. Irama tertawa geli anak itu mengikuti saya.
"Datang lagi ya, Pak Peter" dia memanggil. "Kita masih punya hari menyenangkan yang lain."
Hari dan minggu-minggu berikutnya bukan milik saya: sekelompok anak yang tidak dapat diatur, pertemuan orang-tua dan guru, ibu yang sakit. Matahari bersinar cerah ketika suatu pagi saya sedang mencuci tangan.
"Saya butuh burung laut", saya berkata kepada diri sendiri, sambil mengambil jaket.Suasana pantai sedang menunggu. Angin terasa dingin, tapi saya terus melanjutkan, mencoba untuk memperoleh kedamaian yang saya butuhkan. Saya sudah melupakan anak kecil itu dan terkejut ketika menjumpai dia.
"Halo pak Peter," dia berkata.
"Mau main ?" tanyanya lagi.
"Kamu mau main apa sih ?" saya berkata dengan sedikit terganggu.
"Aku tidak tahu? Terserah." sahutnya.
"Bagaimana kalau kita main pura-pura?" saya bertanya dengan kasar. Suara tertawa terdengar lagi.
"Aku tak tahu apa itu." katanya."Kalau begitu kita jalan saja." Sambil memandangnya, saya mengenali wajah lembutnya yang tulus.
"Kamu tinggal dimana?" saya bertanya.
"Di sana." Dia menunjuk ke barisan cottage untuk musim panas di depan. Aneh, saya berpikir, ini musim dingin.
"Kamu sekolah dimana?" tanya saya semakin penasaran.
"Aku tidak sekolah. Mama bilang kita sedang liburan" sahutnya dengan senyum manis.
Dia berceloteh seperti layaknya seorang anak perempuan kecil sepanjang perjalanan menyusuri pantai, tapi saya sedang memikirkan hal yang lain. Wendy berkata bahwa ia menikmati hari menyenangkan. Aneh, sekarang saya merasa lebih baik, saya tersenyum padanya dan menyetujuinya.Tiga minggu berikut, saya terburu-buru pergi ke pantai dalam keadaan yang boleh dibilang panik. Saya sama sekali sedang tidak 'in the mood' sekalipun hanya untuk memberi salam kepada Wendy.
"Lihat, kalau kamu tidak berkeberatan," saya berkata dengan gusar ketika Wendy menangkap tangan saya, "Saya ingin sendirian hari ini." Dia kelihatannya lebih pucat dari biasanya dan tampak kelelahan.
"Kenapa ?" dia bertanya. Saya berbalik kepadanya dan berteriak, "Karena ibu saya meninggal !!!" dan saya tersentak sendiri, ya Tuhan, kenapa saya berkata seperti ini kepada seorang anak kecil ?
"Oh," dia berkata perlahan, "Kalau begitu ini hari buruk."
"Ya," kata saya, "Dan kemarin dan kemarin lagi dan, ah ... semuanya sudah berlalu!" kelu saya.
"Apa kamu sedih?" anak ini terus bertanya.
"Sedih?" saya kecewa terhadapnya dan terhadap diri saya sendiri.
"Kapan dia meninggal ?" tanya Wendy.
"Tentu saja itu menyedihkan !!!!" saya berseru, salah mengerti, perasaan saya campur aduk dalam diri saya. Saya pergi meninggalkannya begitu saja.
Satu bulan setelah itu, ketika saya datang lagi ke pantai itu, Wendy, anak perempuan kecil itu tidak ada di sana. Dengan merasa bersalah, malu dan harus mengakui bahwa sebenarnya saya kehilangan dia, saya pergi ke cottage. Setelah berjalan beberapa saat saya tiba di sana dan mengetuk pintu. Seorang wanita muda yang menarik perhatian dengan rambut berwarna kuning-madu membuka pintu.
"Halo," saya berkata. "Saya Robert Peterson. Saya kehilangan anak perempuan kecilmu dan ingin tahu dimana dia sekarang."
"Oh ya, Pak Peterson, silahkan masuk. Wendy banyak bercerita tentang dirimu. Saya khawatir kalau saya telah membiarkannya mengganggumu. Kalau dia telah mengganggu, terimalah permohonan maaf saya."
"Tidak juga - dia anak yang menyenangkan," saya berkata, tiba-tiba saya menyadari bahwa benarlah demikian adanya. Wendy gadis kecil yang menyenangkan.
"Dimana dia?" tanya saya setelah menyadari ketidak beradaan Wendy.
"Wendy meninggal minggu lalu, Pak Peterson. Dia menderita leukemia. Mungkin dia belum memberitahu anda." Seperti dipukul, saya segera mencari pegangan pada kursi. Napas saya seperti berhenti, jantung saya serasa berhenti berdetak.
"Dia suka sekali pantai ini; maka ketika dia meminta untuk datang ke tempat ini, kami tidak dapat menolaknya. Dia kelihatannya menjadi lebih baik disini dan mempunyai banyak hari yang disebutnya sebagai hari menyenangkan. Tetapi minggu-minggu terakhir, kondisinya menurun dengan cepat?" suaranya wanita muda itu melemah,
"Dia meninggalkan sesuatu untukmu. Kalau saja saya dapat menemukannya. Dapatkah anda menunggu sebentar sementara saya mencari?". Saya mengangguk, pikiran saya bekerja keras mencari sesuatu, apa saja, untuk diucapkan kepada wanita muda terkasih ini.
Dia memberikan saya sebuah amplop agak kotor, dengan tulisan tebal Pak Peter, tulisan anak-anak. Didalamnya ada sebuah gambar dibuat dari krayon cerah - gambar satu pantai bewarna kuning, laut biru, dan seekor burung coklat. Dibawahnya tertulis dengan rapi : BURUNG LAUT MEMBAWA KEBAHAGIAAN UNTUK KAMU. Mata saya terasa basah, dan satu bagian hati yang hampir terlupakan selama ini terbuka lebar untuk mengasihi. Saya menggenggam tengan ibu Wendy.
"Saya sangat menyesal, saya menyesal, saya menyesal, " saya menggumamkannya berkali-kali dan kami menangis bersama. Gambar kecil yang sangat berharga itu sekarang diberi bingkai dan digantung di kamar belajar saya. Enam kata - satu untuk setiap tahun kehidupannya - telah berbicara kepada saya tentang harmoni, kekuatan, kasih yang tidak menuntut. Hadiah dari seorang anak kecil dengan mata biru dan rambut pasir telah mengajar saya arti pemberian kasih.
LORD JESUS, bless you and me, now and forever.
Amin.
By: Robert Petterson
Ucapkanlah kasih sayang mu
Ingatkah apa yang dilakukan ibumu untuk meringankan rasa sakit?
Ibuku, Grace Rose, selalu menggendongku, membawaku ke tempat tidurnya, mendudukkan diriku, lalu mencium “aduh”-ku. Lalu ia duduk di tempat tidur di sampingku, meraih tanganku dan berkata, “Kalau sakit, remas saja tangan Ibu. Nanti akan kukatakan Aku sayang kamu."
Sering aku meremas tangannya, dan setiap kali, tak pernah luput, aku mendengar kata-kata, “Mary, Ibu sayang kamu.”
Kadang-kadang aku pura-pura sakit hanya supaya aku memperoleh ritual itu darinya. Waktu aku lebih besar, ritual itu berubah, tapi ia selalu menemukan cara untuk meringankan rasa sakit dan meningkatkan rasa senang yang kurasakan dalam berbagai bagian hidupku.
Pada hari-hari sulit di SMU, ia akan menawarkan sebatang cokelat almond Hershey kesukaannya saat aku pulang.
Semasa usiaku 20-an, Ibu sering menelepon untuk menawarkan piknik makan siang spontan di Taman Eastbrook untuk sekadar merayakan hari cerah dan hangat di Wisconsin.
Kartu ucapan terima kasih yang ditulisnya sendiri tiba di kotak pos setiap kali ia dan ayahku berkunjung ke rumahku, mengingatkanku betapa istimewanya aku baginya.Tapi ritual yang paling berkesan adalah genggamannya pada tanganku saat aku masih kecil dan berkata, “Kalau sakit, remaslah tangan Ibu dan akan kukatakan aku sayang kamu.”
Suatu pagi, saat aku berusia akhir 30-an, setelah orangtuaku berkunjung pada malam sebelumnya, ayahku meneleponku di kantor. Ia selalu berwibawa dan jernih saat memberi nasehat, tapi aku mendengar rasa bingung dan panik dalam suaranya.
“Mary, ibumu sakit dan aku tak tahu harus berbuat apa. Cepatlah datang kemari.”
Perjalanan mobil 10 menit ke rumah orangtuaku diiringi oleh rasa takut, bertanya-tanya apa yang terjadi pada ibuku. Saat aku tiba, Ayah sedang mondar-mandir di dapur sementara Ibu berbaring di tempat tidur. Matanya terpejam dan tangannya berada di atas perut. Aku memanggilnya, mencoba menjaga agar suaraku setenang mungkin.
“Bu, aku sudah datang.”
“Mary?”
“Iya, Bu.”
“Mary, kaukah itu?”
“Iya, Bu, ini aku.”
Sungguh aku tak siap untuk pertanyaan berikutnya, dan saat aku mendengarnya, aku membeku, tak tahu harus berkata apa.
“Mary, apakah Ibu akan mati?” tanya ibuku.
Air mata menggenang dalam diriku saat aku memandang ibuku tercinta terbaring di situ tak berdaya. Pikiranku melayang, sampai pertanyaan itu terlintas dalam benakku: ‘Jika keadaannya terbalik, apa yang akan dikatakan Ibu padaku?’Aku berdiam sejenak yang terasa seperti jutaan tahun, menunggu kata-kata itu tiba di bibirku.
"Bu, aku tak tahu apakah Ibu akan mati, tapi kalau memang perlu, tak apa-apa. Aku menyayangimu."
Ia berseru, “Mary, rasanya sakit sekali.”
Lagi-lagi, aku bingung hendak berkata apa. Aku duduk di sampingnya di tempat tidur, meraih tangannya dan mendengar diriku berkata, “Bu, kalau Ibu sakit,remaslah tanganku, nanti akan kukatakan, aku sayang padamu.”
Ia meremas tanganku.“Bu, aku sayang padamu.”
Banyak remasan tangan dan kata “aku sayang padamu” yang terlontar antara aku dan ibuku selama dua tahun berikutnya, sampai ia meninggal akibat kanker indung telur.
Kita tak pernah tahu kapan ajal kita tiba, tapi aku tahu bahwa pada saat itu, bersama siapa pun, aku akan menawarkan ritual kasih ibuku yang manis setiap kali, “Kalau sakit, remaslah tanganku, dan akan kukatakan, aku sayang padamu.”
Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang pada orang yang anda cintai adalah dengan memegang dan meremas tangannya dengan lembut. Tindakan itu kadangkala mengandung makna dan arti yang teramat dalam yang hanya dapat dipahami antara anda dan orang yang anda cintai………….
Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. (Efesus 4:2)
GOD bless you and me, now and forever.
AMEN.
By: Mary Marcdante - Chicken Soup for the Mother’s Soul
Rabu, 18 Agustus 2010
Jika, ,
maka aku tidak akan pernah tahu..
bahwa ada sesuatu yang lebih putih dari salju, lebih bening dari air,
dan lebih indah dari nafas…..
Minggu, 15 Agustus 2010
woman :)

Tuhan, dan ia bertanya, “Tuhan, mengapa
wanita begitu mudah menangis?”
Allah berfirman:
“Ketika Aku menciptakan
seorang wanita, ia diharuskan untuk
menjadi seorang yang istimewa. Aku
membuat bahunya cukup kuat untuk
menopang dunia; namun, harus cukup
lembut untuk memberikan kenyamanan ”
“Aku memberikannya
kekuatan dari dalam untuk mampu
melahirkan anak dan menerima penolakan
yang seringkali datang dari anak-anaknya ”
“Aku memberinya
kekerasan untuk membuatnya tetap tegar
ketika orang-orang lain menyerah, dan
mengasuh keluarganya dengan penderitaan
dan kelelahan tanpa mengeluh ”
“Aku memberinya kepekaan
untuk mencintai anak-anaknya dalam
setiap keadaan, bahkan ketika anaknya
bersikap sangat menyakiti hatinya “
Wawancara Dengan Tuhan
WARTAWAN: "Ya, sekiranya Tuhan punya waktu sedikit."
TUHAN: "O, waktu-Ku adalah kekekalan. Tak masalah itu! Apa pertanyaanmu?"
WARTAWAN:"Terima kasih. Apa yang paling mengherankan bagi Tuhan tentang kami manusia?"
TUHAN: "Menurut-Ku,kalian itu makhluk yang aneh
Pertama,suka mencemaskan masa depan sampai lupa hari ini.
Kedua, kalian hidup seolah tidak bakal mati dan mati seolah-olah tidak penah hidup.
Ketiga,kalian cepat bosan sebagai anak anak dan terburu-buru ingin dewasa.
Namun sesudah dewasa rindu lagi jadi anak-anak: suka bertengkar,ngambek,ngeyel, dan ribut
karena soal-soal sepele.
Keempat, kalian rela kehilangan kesehatan demi mengejar uang,tetapi membuangnya kembali untuk mengembalikan kesehatan itu.Hal-hal begitulah yang membuat hidup kalian susah."
WARTAWAN:"Lantas apa nasihat Tuhan agar kami hidup bahagia?"
TUHAN: "Lho?Semua nasihat kan sudah pernah Kuberikan. Ini satu lagi keanehan kalian: suka melupakan nasihat-Ku.
Tetapi karena majalahmu dibaca semua orang, baiklah Ku ulangi beberapa yang terpenting.
(1) Kalian harus sadar bahwa mengejar rezeki adalah sebuah kesalahan. Yang seharusnya kalian lakukan ialah menata diri agar kalian dikucuri rezeki.
Jadi,jangan mengejar rezeki,tetapi biarlah rezeki yang mengejar kalian.
(2) Siapa yang kalian miliki lebih berharga daripada apa yang kalian punyai.
Jadi,perbanyaklah teman,kurangi
musuh. Ingat,seribu kawan masih kurang,satu lawan terlalu banyak.
(3) Membandingkan rezeki sendiri dengan rezeki orang lain adalah sebuah kebodohan.
Kalian seharusnya mensyukuri apa yang sudah kalian terima.
Khususnya,kenalilah talenta dan potensi yang kalian miliki lalu kembangkanlah sebaik-baiknya, maka
kalian akan menjadi manusia unggul.
(4) Pada kondisi ini jugalah rezeki akan selalu mengikuti kalian.
orang terkaya, bukanlah yang mengumpulkan paling banyak,tetapi dia yang paling memerlukan sedikit sehingga masih sanggup memberi bagi sesamanya.
(5) Orang terbesar diantara kalian ialah dia yang menolong orang lain menjadi besar, bukan yang membesarkan dirinya dengan mengejar berbagai gelar dan jabatan.Yang terakhir ini mendatangkan sinisme sedangkan yang pertama mendatangkan afeksi. Jadi,kalian harus mendalami lagi makna pelayanan.
(6) Dua orang bisa melihat dan mengalami hal yang sama tetapi menghayatinya berbeda.Jadi belajarlah memahami pikiran dan perasaan oranglain.Secara khusus,jangan pernah memutlakkan pendapat kalian sendiri.Bertanya,mendengar, dan berdialog lebih baik daripada beropini,berteori, dan saling membantah.
(7) Bila kalianberbuat salah,
tidak cukup hanya mendapat ampunan dari-Ku, tetapi kalian juga harus belajar mengampuni diri sendiri. Itu saja.
Bila kalian mengamalkan tujuh nasihat ini,
niscaya kalian baik-baik saja."
Tapi karena kau wartawan pemberani,
Kuberi bonus satu:
Ingatlah,dalam semua kesusahan kalian, Aku selalu siap membantu.
Jadi,jangan kalian sia-siakan keahlian-Ku.
Dan Aku pun masih seperti yang dulu: Maha pengasih lagi Maha penyayang!
Segitu aja.Semoga kalian sukses dan selalu bahagia!"
Dan satu lagi,
"Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;
itulah yang akan
menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu".(Amsal3:7-8)
semoga bermanfaat... ^^
Minggu, 08 Agustus 2010
Ayah..
di balik kisah seorang “ayah”
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
Akan sering merasa kangen sekali dengan ibunya.
Lalu bagaimana dengan ayah?
Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil..
Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Ibu bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba.
Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”
Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah
Ketika kamu menjadi gadis dewasa….
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Ayah harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.
Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya.
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Ayah tahu…..
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya….
Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia….
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Ayah menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa….
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
Ayah telah menyelesaikan tugasnya….
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
wartawarga~